Dear Bos BI… Suku Bunga The Fed Bisa 5%, Rupiah Jeblok Lagi


2022Jakarta, CNBC Indonesia – Rupiah kembali melemah melawan dolar Amerika Serikat (AS) di awal perdagangan Kamis (20/10/2022), hingga mendekati Rp 15.600/US$. Pengumuman kebijakan moneter Bank Indonesia (BI) akan menentukan arah rupiah.

Melansir data Refinitiv, rupiah membuka perdagangan dengan melemah 0,23% ke Rp 15.530/US$. Dalam hitungan detik rupiah langsung merosot 0,48% ke Rp 15.570/US$, dan tertahan di level tersebut hingga pukul 9:05 WIB.

Survei yang dihimpun CNBC Indonesia terhadap 13 institusi menunjukkan lima lembaga/institusi memperkirakan Gubernur Perry Warjiyo dan kolega akan mengerek BI7DRR sebesar 25 basis points (bps) menjadi 4,50%, tujuh lembaga/institusi memproyeksi kenaikan BI7DRR sebesar 50 bps menjadi 4,75% sementara satu lembaga memperkirakan kenaikan sebesar 75 bps menjadi 5,00%.

Pelaku pasar tentunya menunggu kepastian seberapa besar suku bunga akan dinaikkan. Jika kenaikan hanya 25 basis poin, bisa menjadi sentimen negatif, sebab selisih suku bunga dengan bank sentral AS (The Fed) akan semakin menyempit.

Sudah jamak diketahui pemicu utama pelemahan rupiah adalah bank sentral AS (The Fed) yang sangat agresif menaikkan suku bunga. Sepanjang tahun ini kenaikannya sebesar 300 basis poin, menjadi 3% – 3,25% dan masih akan terus berlanjut.

Pada November nanti, bank sentral paling powerful di dunia ini diperkirakan akan menaikkan lagi sebesar 75 basis poin menjadi 3,75% – 4%. Tidak cukup sampai di situ, kenaikan masih akan terus dilakukan hingga awal tahun depan.

Berdasarkan data dari perangkat FedWatch milik CME Group, pasar melihat ada probabilitas sebesar 52% suku bunga The Fed berada di level 4,75% – 5% pada Februari 2023.

Dengan agresivitas tersebut, indeks dolar AS terus meroket hingga menyentuh level tertinggi dalam 20 tahun terakhir. Indeks ini merupakan tolak ukur kekuatan dolar AS, semakin tinggi artinya semakin perkasa.

Selain The Fed yang agresif, risiko resesi dunia juga membuat the greenback semakin cemerlang.

Maklum saja, dolar AS menyandang status safe haven, saat dunia terancam resesi bahkan stagflasi maka permintaanya akan meningkat.

Tekanan bagi rupiah juga datang dari dalam negeri. Dengan suku bunga The Fed yang semakin tinggi, selisih imbal hasil (yield) obligasi AS (Treasury) dengan Surat Berharga Negara (SBN) semakin menyempit.

// <![CDATA[!function(){"use strict";window.addEventListener("message",(function(e){if(void 0!==e.data["datawrapper-height"]){var t=document.querySelectorAll("iframe");for(var a in e.data["datawrapper-height"])for(var r=0;r<t.length;r++){if(t[r].contentWindow===e.source)t[r].style.height=e.data["datawrapper-height"][a]+"px"}}}))}();// ]]>

Berdasarkan data Refinitiv, selisih yield SBN dengan Terasury tenor 10 tahun berada di kisaran 3,3%, terendah sejak awal 2013. Alhasil, terjadi capital outflow yang masif di pasar obligasi.

Berdasarkan data dari Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR), sepanjang tahun ini hingga 17 Oktober investor asing menarik dananya dari pasar obligasi sekitar Rp 166 triliun. Rupiah pun kesulitan menguat.

TIM RISET CNBC INDONESIA