Kendaraan Listrik Bisa Kurangi Separuh Emisi Karbon


2022 – irektur Utama PT PLN Darmawan Prasodjo mengungkapkan bahwa penggunaan kendaraan listrik lebih ramah lingkungan dibandingkan kendaraan berbahan bakar minyak (BBM).

Dari perhitungan 1 liter BBM, sama dengan 1,2 kWh listrik tapi mampu hasilkan 2,4 kilogram emisi karbon. Sedangkan 1,2 kWh listrik pada sistem kelistrikan di Indonesia sekarang, emisinya hanya sekitar 1,1 kg CO2e.

Hal tersebut karena sistem kelistrikan Indonesia masih ditopang oleh PLTU. Per 1 kWh, menurut hitungannya, hanya menghasilkan emisi sekitar 0,85 kg CO2e.

Oleh karenanya, perseroan berkomitmen untuk mengurangi emisi kabon supaya mampu mencapai tekad Net Zero Emission (NZE) pada 2060. Salah satunya ini melalui penggunaan kendaraan listrik nasional.

Mengingat, sektor transportasi adalah salah satu penyumbang emisi karbon tertinggi di Indonesia. Tak kurang dari 280 juta ton CO2e dihasilkan dari sektor transportasi.

“Jika dibiarkan, maka pada tahun 2060 emisinya akan ada 860 juta ton CO2e per tahun. Kita di sini untuk memastikan generasi mendatang lebih baik dari pada hari ini,” katanya dalam keterangan tertulis, Kamis (13/10/2022).

“PLN berkomitmen penuh untuk bisa menurunkan emisi gas rumah kaca,” kata Darmawan.

Dengan menggunakan kendaraan listrik, lanjut dia, berdasarkan hitungan itu maka Indonesia sudah menjadi bagian dalam mengurangi emisi karbon lebih dari 50 persen.

Untuk mempermudah pengguna kendaraan listrik, PLN siap memberikan berbagai insentif dan layanan, salah satunya dengan layanan home charging.

“Ini perubahan gaya hidup. PLN akan memfasilitasi dengan menyediakan home charging untuk setiap pembelian kendaraan listrik. Untuk itu kami telah bekerja sama dengan para produsen kendaraan listrik,” ujar Darmawan.

Sehingga setiap ada pembelian kendaraan listrik, datanya masuk, lalu pihak PLN akan pasangkan langsung home charging di rumahnya dengan segera.

Dalam kesempatan sama, Direktur Pengendalian Pencemaran Udara Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Luckmi Purwodari mengatakan indeks kualitas udara di kota-kota besar sangat rendah.

Menurut catatan KLHK, Jakarta contohnya, untuk kualitas udara dalam setahun pada 2021 hanya 12,88 persen.

“Jadi penggunaan kendaraan listrik itu pada intinya adalah untuk mengurangi penggunaan sumber daya alam yang semakin terbatas, khususnya dalam hal bahan bakar fosil. Berikutnya adalah untuk mengurangi pemanasan global akibat perubahan iklim dan memperbaiki kualitas udara,” jelasnya.